Saya terkaget-kaget waktu baca berita tentang Zimbabwe berjudul ”Inflasi 100.000 Persen Lebih Jadi Tema Kampanye Partai Oposisi” di Koran Kompas (28/03/2008). Bukan karena saya ingin membahas politik, tapi isi berita ini memang sangat mengejutkan. Bayangin aja, dinegara kita inflasi naik 1 poin (dlm persen) aja udah bikin pemerintah uring-uringan dan rakyat sengsara. Apa lagi Zimbabwe yang mengalami tingkat inflasi tahunan lebih dari 100.000 persen. Nggak heran kalau banyak warganya yang tidak memiliki pekerjaan, kalaupun memiliki pekerjaan, saya nggak tahu berapa gaji standar yang mereka dapatkan. Bahkan seorang penyapu jalan mungkin juga nggak akan bangga jika mendapatkan penghasilan 1 Milyar perbulan.
Seperti kutipan berikut: ”Saat ini nilai tukar satu dollar AS setara dengan 50 juta dollar Zimbabwe. Tingkat inflasi yang tinggi ini menyebabkan rakyat sulit memenuhi kebutuhan pokok, seperti kebutuhan pangan. Untuk memperoleh roti saja, warga harus membayar 20 juta dollar Zimbabwe.” Saya tidak tahu berapa nominal terkecil dan terbesar dinegara itu, tapi jika saya harus membayangkan seandainya di Indonesia untuk membeli roti saja harus membayar 20 juta, mungkin saya harus menyediakan berkarung-karung uang untuk membeli kebutuhan pangan lainnya. Seperti habis merampok bank, padahal cuma mau beli beras dan minyak. Menyedihkan..
ah…
betul sekali…
kaya indonesia yah…
inflasi segitu sih udah diluar nalar, mending negaranya dibubarin terus di akuisisi sama PBB atau badan lainnya. Percuma aja mereka ngadain pemilu lagi, ga akan ada pengaruhnya ke rakyat.
Rencana mereka sih katanya mau ngeluarin mata uang baru, tapi nggak tahu apa bisa kayak negara-negara eropa yang beralih ke uero, atau seperti yang pernah negara kita alami, melakukan pemotongan uang.