Demi Allah,
Aku sungguh-sungguh merindukanmu wahai kekasih yang tak pernah kumiliki
Pada kebenaran mana lagi harus kuungkapkan padamu?
Siapa yg menyakiti siapa sebenarnya?
Posted in Goresan Hati | Leave a Comment »
Saya tidak mengerti sebenernya kriteria melangkahi atasan itu seperti apa. Apa dengan kita menerima tugas lansung dari orang yang jabatannya lebih tinggi dan tanpa melalui perantara beliau lalu kita disebut melangkahi? Atau kata melangkahi hanya sebentuk ’teguran formalitas’ yang intinya hanya harus melapor jika mendapat tugas yang bukan dari atasan langsung.
’Langkah-melangkahi’ selama ini tidak pernah ada dalam pikiran saya, terutama dalam hal pekerjaan, jadi ketika saya menerima perintah dari siapa pun yang memang punya wewenang memerintah saya, maka saya akan mengerjakannya sampai batas kemampuan saya. Continue Reading »
Posted in Goresan Hati, Opini | Leave a Comment »
Happy birthday to me… hahaha… kayaknya saya tidak seharusnya tertawa, karena itu berarti umur saya berkurang 1 tahun, tapi apa salahnya saya menikmati kenyataan bahwa Tuhan telah mengizinkan saya menyentuh angka 22 dalam tahun kehidupan saya. Hari ini, Jum’at, 6 Maret 2009 dihari yang sama 22 tahun lalu saya dilahirkan, kembali saya harus merefleksikan diri bahwa saya sudah beranjak dewasa (ciee.. berat bahasanya ) dan mengerti sepenuhnya arti kedewasaan saya.
Dan dihari ini juga, Surat Keputusan Kenaikan Gaji/Promosi menjadi kado terindah buat saya juga ucapan dari teman-teman samua yang masih ingat dan peduli pada saya. Yang pasti saya sangat bersyukur atas anugrah yang saya terima selama ini, dan semoga ini menjadi pemicu saya untuk berbuat lebih baik lagi.
Harapan terbesar saya, Hm.. apa ya? Kadang saya nyaris tidak berani memiliki harapan, bukan karena takut tidak tercapai, tapi saya sering lupa dengan harapan saya, jadi kadang tiap hari saya punya harapan baru.
Posted in Report | 1 Comment »
Banyak hal yang tak kumengerti dari apa yang mereka tuduhkan kepadaku dalam percintaan ini. bukankah ini adalah hidupku dan aku sendiri yang paling mengetahui benar dan salahnya jalan hidup yang kupilih. Lagi pula dimana letak kesalahanku saat aku memilih untuk hidup bersama seseorang yang kucintai dan mencintai aku?
Aku memang bukan kesucian yang Tuhan turunkan kebumi untuk menerima segala sanjung dan puji atas anugrah yang aku miliki, namun aku juga bukan noktah yang dilempar surga ke kaki-kaki dan telunjuk yang mengarahkan segala caci maki kewajahku. Aku hanyalah manusia biasa, sama seperti kalian, hanya saja ada seorang titisan dewa yang memintaku menjadi sang Dewi dihatinya. Meski sebenarnya ini bukan sesuatu yang mudah untuk kuputuskan, namun tempat terindah itu telah diberikannya padaku. Bahwa aku memang merasa nyaman saat bersamanya, bahwa aku tahu ia tak memiliki cukup kata-kata untuk menghiburku saat aku sedih, namun pelukannya adalah cara terbaik yang ia lakukan untuk menenangkan aku. bahwa tawanya adalah kebahagiaan yang menceriaka hari-hariku, sedangkan kesedihannya adalah awan hitam yang menjadi duka dihatiku. Dan disaat aku merasa begitu merindukan kepergiannya, akupun mengerti bahwa ia adalah seseorang yang kubutuhkan.
Apakah apa yang sebenarnya kalian takutkan dari kebersamaan kami? Apa dengan kami bersama bisa membuat kalian kehilangan kebahagiaan? Jika kalian membenciku hanya karena aku mencintainya, maka tanyalah pada hati nurani kalian sendiri, apakah kalian bisa mengatur dan menentukan pada siapa cinta itu kalian berikan? Aku tak pernah meminta perasaan itu datang padaku, maka berhakkah aku untuk memintanya pergi? Tuhan telah menakdirkan ia menjadi jodohku, bisakah aku menolaknya, hanya karena waktu dan keadaan yang salah?
Posted in Goresan Hati | 3 Comments »
Kesalahanku hanyalah terlalu cepat menganggap bahwa aku telah mencintaimu dengan segala ketidaktahuanku tentang kamu
Terlalu percaya pada perasaan tentang kebenaran dirimu yang mungkin tak sepenuhnya merupakan kenyataan
Terlalu lama tenggelam dalam mimpi-mimpi tentang kenangan masa lalu yang benar adanya meski itu tak pernah terjadi
Padahal aku mengenalmu seperti aku mengenal malam saat mendung menutup cahaya untukku, menyisakan hitam berselimut gelap yang menyajikan bayang-bayang maya untuk menemani sisi-sisi khayalanku
Memaksaku untuk pergi menjauh dari setiap kesadaran yang seakan tak mungkin lagi kusentuh keberadaannya
Maka bagaimana bisa aku mengakui sesuatu yang tak kumengerti seutuhnya, bagaimana aku bisa selemah ini, membiarkan tubuh dan jiwaku terbelenggu dalam dilema-dilema imajinasiku sendiri
Sedang selama ini aku hanya berdiri pada dua persimpangan yang sama-sama tak kuketahui tujuannya; Mengikuti gelap tak berbatas atau terang namun buntu
Posted in Goresan Hati | 6 Comments »